RECONSCULTURE: Tegangan, Refleksi, dan Adaptasi Budaya
RECONSCULTURE: Tegangan, Refleksi, dan Adaptasi Budaya
Dengan memanjatkan doa dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas nama pribadi maupun selaku Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, saya menyambut dengan bahagia dan rasa gembira digelarnya pameran Reconsculture di ARMA Museum, Ubud, Bali ini.[1]
Kegembiraan saya bertambah semarak ketika menyadari bahwa pameran ini hadir sebagai diplomasi estetika, sebuah mata air kesenian bangsa kita dalam ranah kepedulian masyarakat dunia yang tergabung dalam event Quest for Global Healing II yang diselenggarakan juga di seputaran Ubud.[2]
Saya berkeyakinan bahwa kekuatan artistik, empati, taksu, dan gagasan di balik karya-karya pameran Reconculture ini dapat membangkitkan hasrat terdalam akan rasa indah bagi penikmatnya.
Provisiat atas usaha dan kerja keras sehingga pertalian even ini dapat berlangsung apik dan cantik.
Dalam dua dasawarsa belakangan ini, kita makin memahami bahwa interaksi antar budaya adalah bagian pasti dari keseharian kita, dan timbal balik tersebut akan berlangsung selamanya berkat kepesatan teknologi informasi, kecanggihan komunikasi, dan kemudahan dalam pergerakan manusia saat ini. Secara bersamaan, muncul ketegangan kultural (culture shock) yang merangsang harapan dan juga krisis (terutama ketika interaksi itu sendiri adalah juga ancaman bagi kelangsungan hidup dari budaya itu sendiri).
Selanjutnya kita makin larut dalam fenomena kosmopolitan yang kerap kita sebut globalisasi dimana kehidupan yang kita jalani sebagai warga suatu negara secara bersamaan dijalani dengan keterlibatan budaya, material, dan psikologis dengan masyarakat di negara lain – dibelahan lain dunia. Kejadian yang amat jauh pun menjadi amat dekat dan mempunyai dampak yang signifikan; semuanya mengaburkan makna mengenai batasan “ruang lingkup personal”.
Alhasil , budaya global tidak berhenti begitu saja pada “Big Mac” dan “KFC”, namun juga berlanjut hingga membuat kita ‘’tafakur’’ di setiap akhir pekan, menikmati “Who Wants To Be A Millionaire” dan juga “American Idol” baik versi “Paman Sam” maupun “Nusantara”. Kita makin gelisah untuk bisa menguasai bahasa Inggris seiring dengan demam “HTML”, dan “hypermedia” yang melanda seluruh dunia, terutama dalam aplikasinya pada bidang teknologi informasi dan ruang maya; Internet.[3]
Jelas bahwa globalisasi melahirkan perenungan terhadap totalitas kebudayaan sebagai identitas (pribadi maupun negara), seiring dengan terkonstruksinya identitas global yang mengemukakan karakter dan kearifan lokal yang diterima secara universal. Budaya lokal dan budaya nasional tersedot dan melekat dengan kekuatan-kekuatan global yang memaksa keduanya untuk menumbuhkan refleksi serta adaptasi.
Hal ini mengingat kebudayaan (atribut-atribut yang dianut secara kolektif, dinamis, dan berubah seiring waktu) mencerminkan sekumpulan hubungan yang amat kompleks antara sang individu dan lingkup budaya dimana ia tinggal. Di satu sisi, sang individu berperan dalam menentukan budayanya, namun di sisi lain, ia juga ditentukan oleh pergerakan budaya-budaya yang mengitarinya. Maka dengan sendirinya, ketika ia (manusia) berkontribusi terhadap budaya yang melingkupi, kontan ia menjadi bagian dari proses (perubahan) kebudayaan.
Proses kebudayaan semacam inilah yang menjadi problematika bagi manusia moderen terutama dalam menyikapi paradigma globalisasi yang walau dikritisi dari segala sudut pandang – tetaplah nyata.
Anti-globalisasi muncul sebagai reaksi atas situasi dunia saat ini yang diselimuti trauma-negativa; perang, kelaparan, penjajahan hak asasi, ketimpangan kesempatan, juga degradasi lingkungan di mana-mana.
Euphoria globalisasi menyertakan badai derita, masih segar dalam ingatan kita bagaimana ekonomi gelembung (bubble economies) di Indonesia, Thailand, dan Malaysia di tahun 1997 meledak akibat penarikan investasi asing secara besar-besaran dan spekulasi ekonomi yang awalnya muncul karena liberalisasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara saat itu.
Begitu pula ketika penggunaan TCP/IP dan HTML makin diminati dan disepakati oleh dunia barat sebagai basis internet, muncul ketakutan bahwa akan muncul sebuah monoculture dan doktrinisasi oleh para penguasa teknologi itu terhadap perkembangan cyberspace. Namun kekhawatiran itu sontak sirna ketika teknologi ini berkembang di domain publik yang kemudian malah secara signifikan memunculkan terapan-terapan baru.
Begitu pula ketika dominasi pemikiran Barat meliputi paradigma pembangunan dunia, muncul pertentangan dari Timur sebagai penyeimbang, yang dalam konteks historis sesungguhnya telah dilawan kalangan Sosialis. Yang pada gilirannya nilai ketimuran yang memberi nuansa plural dan multi-kultur sebagai aksen penting dalam paradigma mengenai dunia, kini mulai diapresiasi.
Berkaitan dengan dinamika global tersebut, tema Reconsculture[4] mencerminkan langkah penting dalam proses transformasi antar budaya (intercultural transformations) dimana globalisasi mesti dimaknai dengan kesadaran bahwa meningkatnya keterkaitan antar bangsa dan manusia ini adalah sebuah ruang untuk mencapai ekulibrium kultural; keharmonisan melalui upaya-upaya reflektif dan adaptasi terhadap budaya masing-masing hingga pengaruh global. Reconsculture jelas dialami oleh entitas Bali.
Bali merupakan sebuah ruang atau capaian kosmologis dimana kesinambungan budaya tumbuh dan berkembang.[5] Reputasi Bali masa kini sebagai sebuah ranah kebudayaan adi luhung dan relung kreativitas keindahan yang dinamis bukan bersumber dari satu even hebat yang terjadi begitu saja pada suatu term sejarah di pulau ini. Sebaliknya reputasi kultural dan tradisi tersebut berasal dari beragam proses kebudayaan dari unsur-unsur baik lokal maupun asing yang terjadi dari masa pra sejarah hingga berlanjut sampai masa kini.
Satu contoh monumental adalah fusi keagamaan yang pernah terjadi di Bali pada abad ke sebelas dimana sang jenius Mpu Kuturan berhasil menyakinkan para pemuka sekte untuk menyatukan ajaran mereka menjadi satu keutuhan paham kepercayaan. Dalam pertemuan tersebut, ajaran religius Tri Murti[6] disepakati. Selanjutnya sampai sekarang, Tri Murti menjadi fondasi bernuasa multi facet nan kuat dari paham yang kita kenal sebagai Hinduisme Bali.
Secara singkat, apabila hal yang teramat serius seperti di atas -- persaingan sistem kepercayaan -- dapat diselesaikan secara elegan dan kreatif, maka tidak ada yang bisa menghalangi orang Bali untuk menggunakan metode yang sama dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lain, seperti halnya pengaruh budaya asing. Selama kedatangan mereka tidak dimotivasi untuk menjajah atau difasilitasi dengan kekerasan, orang Bali niscaya menyerap dengan kredo dialog kultural.
Seperti pada awal abad dua puluh (1906, juga 1908), orang Bali menunjukkan perlawanan heroik nan tragis terhadap pendudukan dan kekejaman penjajahan Belanda. Namun di saat yang bersamaan mereka menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada seorang pelukis kenamaan Belanda, WOJ Nieuwenkamp, yang bersepeda kesana kemari ke seluruh pelosok pulau dewata ini. [7]
Bagi entitas Bali, harmoni merebak dari keindahan; sebuah aspek budaya mendasar terutama dalam mentransformasi lanskap fisikal dan fisiologis pulau ini. Masyarakat Bali amat menekankan pentingnya keindahan bagi mereka yang direfleksikan melalui seni mengingat seni adalah persembahan, pijak spiritual, dan penjaga harmoni.
Keindahan estetis atau Sundaram menjadi salah satu dari tiga pilar utama paham ini. Pilar lainnya adalah Satyam (Kejujuran) dan Siwan (Kesucian). Dalam konteks ini, kesempurnaan hidup hanya bisa tercapai bila seorang manusia Bali bisa menjalankan hidupnya sesuai dengan Satwam, Siwam dan Sundaran tersebut; dimana hidup (pikiran, perkataan, perbuatan) tidak hanya suci, jujur, namun juga indah.
Pemahaman ini bisa menjadi sebuah sumbangsih dari Bali bagi dunia.
Dalam konteks seni rupanya, Bali juga menjalankan reconsculture. Rekonstruksi dan rekonsiliasi estetis berlanjut, dengan berkembangnya berbagai ragam gaya (style), school (aliran), dan mazhab (movement) yang hidup berdampingan dan saling mengisi sepanjang perkembangan jaman.
Pelaksanaan biennale seni visual pertama di Bali pada tahun 2005 kemarin memunculkan sebuah rekonstruksi kreativitas seni visual di Bali.[8] Kreativitas tidak lagi dibaca sepenuhnya dari gaya, aliran maupun mazhabnya, namun dibaca dari sudut pandang Bali sebagai satu kesatuan geo-kultur yang terbuka bagi pengaruh luar.
Ketika kreativitas merespon kekuatan multikulturalisme dalam masyarakat global masa kini, dan menjadi indikasi akan besarnya keinginan perupa mengembangkan gaya pribadi yang unik maka muncul karya-karya yang mengedepankan pemahaman dan kesadaran akan isu-isu kontemporer – seperti yang nampak dalam eksplorasi perupa dalam pameran ini.
Interaksi identitas pada tatanan global ini mengingatkan saya pada sub-tema Déjà vu (Wilayah Baru) yang merupakan sintesa dari sub-tema Echo dan Embodiment yang masing-masing merepresentasikan gema transformasi dan pembadanan ikonografis budaya tradisi. Sebagai sebuah refleksi, tentu pembacaan semacam ini adalah konstruktif dalam memetakan seni rupa Bali dalam batasan nasional maupun dunia.
Aktivitas inspiratif dan presentasi visual Reconsculture dari delapan perupa muda Nusantara ini termasuk A.A. Darmayuda, AS Kurnia, Made Bakti Wiyasa, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Nyoman Sujana “Kenyem”, Polenk Rediasa dan Wayan Kun Adnyana mengumandangkan arus kreatif yang dialogis, multi-interpretasi dan yang terpenting, mengedepankan semangat eksplorasi kreatif yang tersatukan oleh sebuah kesamaan visi; membangun dan memperkuat kesinambungan kemanusiaan yang penuh kepekaan dan welas asih .
Akhir kata, penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada seluruh perupa dan kurator yang telah membagi pemahaman mereka akan dunia dengan kita semua. Kita berharap sumbangsih mereka sebagai duta budaya dapat mengedepankan keseluruhan kosmologi pemikiran - terutama kemampuan - Bali menumbuhkan dan memelihara keragaman kultural berikut pertarungan kreativitasnya dengan ide-ide kontemporer.
Yogyakarta, 15 April 2006,
Prof. Dr. I Made Bandem
[1] Reconsculture berlangsung di ARMA Museum Ubud Bali dari 4 Mei s/d 27 Juni 2006; sebuah pameran seni visual yang dikurasi oleh Putu Wirata Dwikora dan menampilkan capaian artistik dari delapan perupa muda Nusantara termasuk A.A. Darmayuda, A.S. Kurnia, Made Bakti Wiyasa, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Nyoman Sujana “Kenyem”, Polenk Rediasa, dan Wayan Kun Adnyana.
[2] Quest for Global Healing adalah rangkuman dari upaya-upaya inspiratif demi pembaharuan dunia yang berlangsung di Ubud, Bali untuk kedua kalinya dari 3 s/d 8 Mei 2006.
[3] Seiring dengan pesatnya perkembangan internet, ruang virtual itu didominasi dengan penggunaan sejenis bahasa programming yaitu Hypertext Markup Language (HTML) yang menentukan bagaimana isi (content) dinikmati oleh penggunanya (end-user). Di sisi lain, hypermedia adalah integrasi HTML dan Multimedia (gambar, suara, video, teks, animasi, dan fotografi) yang memungkinkan tampilan isi yang amat kaya. Inilah yang membuat Internet amat popular.
[4] Baca lebih lanjut Pengantar Kuratorial Pameran RECONSCULTURE oleh Putu Wirata Dwikora. Reconsculture merupakan upaya mengedepankan toleransi antar masyarakat dari budaya yang beragam demi tercapainya peradaban manusia yang minim akan konflik dan tirani.
[5] Baca I Made Bandem & Wayan Juniartha (2005). Bali Biennale: Space and Scape of Excellence (Keynote Speech Seminar Seni Visual Internasional yang diadakan dalam kaitan Pameran Seni Visual Internasional Bali Biennale pertama di Taman Budaya Denpasar, 27 November 2005).
[6] Dalam Hinduisme Bali, Tri Murti mencerminkan Tiga Kekuatan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), and Siwa (Penghancur).
[7] Sebagai penghormatan kepada jasa Nieuwenkamp dalam memelihara legasi kultur di Bali, imaginya bersepeda diabadikan pada relief batu di tembok Pura Meduwe Karang di Buleleng.
[8] Baca lebih lanjut Kuratorial Space and Scape oleh Dewan Kurator Bali Biennale dalam katalog Pra Bali Biennale 2005 yang mengemukakan delapan domain kreativitas seni visual dari perspektif Bali termasuk Pilgrimage (Ziarah), Voyage (Perjalanan), Echo (Penggemaan Budaya Tradisi), Embodiment (Pembadanan Ikonografis), Déjà vu (Wilayah Baru), Exploration (Eksplorasi Patung), Discourse (Wacana), dan Edifice (Tri Matra).
I Made Bandem
Penerima Habibie Award 2003 ini, merupakan salah seorang arsitek revitalisasi seni dan kebudayaan Bali bersama Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (antara lain dengan menyelenggarakan Pesta Seni Bali yang telah berlangsung seperempat abad lebih). Ratusan kertas kerjanya mengulas tentang seni dan budaya Bali dan Indonesia dalam konteks global. Salah satunya yang berjudul "Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition" dengan komprehensif dan lugas telah menduniakan seni dan budaya Bali.
salut untuk tim engineering ARMA yang
pembatas yang menghindarkan pengertian dan komunikasi





