Wednesday, May 03, 2006

RECONSCULTURE: Tegangan, Refleksi, dan Adaptasi Budaya

RECONSCULTURE: Tegangan, Refleksi, dan Adaptasi Budaya

Dengan memanjatkan doa dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas nama pribadi maupun selaku Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, saya menyambut dengan bahagia dan rasa gembira digelarnya pameran Reconsculture di ARMA Museum, Ubud, Bali ini.[1]

Kegembiraan saya bertambah semarak ketika menyadari bahwa pameran ini hadir sebagai diplomasi estetika, sebuah mata air kesenian bangsa kita dalam ranah kepedulian masyarakat dunia yang tergabung dalam event Quest for Global Healing II yang diselenggarakan juga di seputaran Ubud.[2]

Saya berkeyakinan bahwa kekuatan artistik, empati, taksu, dan gagasan di balik karya-karya pameran Reconculture ini dapat membangkitkan hasrat terdalam akan rasa indah bagi penikmatnya.

Provisiat atas usaha dan kerja keras sehingga pertalian even ini dapat berlangsung apik dan cantik.

Dalam dua dasawarsa belakangan ini, kita makin memahami bahwa interaksi antar budaya adalah bagian pasti dari keseharian kita, dan timbal balik tersebut akan berlangsung selamanya berkat kepesatan teknologi informasi, kecanggihan komunikasi, dan kemudahan dalam pergerakan manusia saat ini. Secara bersamaan, muncul ketegangan kultural (culture shock) yang merangsang harapan dan juga krisis (terutama ketika interaksi itu sendiri adalah juga ancaman bagi kelangsungan hidup dari budaya itu sendiri).

Selanjutnya kita makin larut dalam fenomena kosmopolitan yang kerap kita sebut globalisasi dimana kehidupan yang kita jalani sebagai warga suatu negara secara bersamaan dijalani dengan keterlibatan budaya, material, dan psikologis dengan masyarakat di negara lain – dibelahan lain dunia. Kejadian yang amat jauh pun menjadi amat dekat dan mempunyai dampak yang signifikan; semuanya mengaburkan makna mengenai batasan “ruang lingkup personal”.

Alhasil , budaya global tidak berhenti begitu saja pada “Big Mac” dan “KFC”, namun juga berlanjut hingga membuat kita ‘’tafakur’’ di setiap akhir pekan, menikmati “Who Wants To Be A Millionaire” dan juga “American Idol” baik versi “Paman Sam” maupun “Nusantara”. Kita makin gelisah untuk bisa menguasai bahasa Inggris seiring dengan demam “HTML”, dan “hypermedia” yang melanda seluruh dunia, terutama dalam aplikasinya pada bidang teknologi informasi dan ruang maya; Internet.[3]

Jelas bahwa globalisasi melahirkan perenungan terhadap totalitas kebudayaan sebagai identitas (pribadi maupun negara), seiring dengan terkonstruksinya identitas global yang mengemukakan karakter dan kearifan lokal yang diterima secara universal. Budaya lokal dan budaya nasional tersedot dan melekat dengan kekuatan-kekuatan global yang memaksa keduanya untuk menumbuhkan refleksi serta adaptasi.

Hal ini mengingat kebudayaan (atribut-atribut yang dianut secara kolektif, dinamis, dan berubah seiring waktu) mencerminkan sekumpulan hubungan yang amat kompleks antara sang individu dan lingkup budaya dimana ia tinggal. Di satu sisi, sang individu berperan dalam menentukan budayanya, namun di sisi lain, ia juga ditentukan oleh pergerakan budaya-budaya yang mengitarinya. Maka dengan sendirinya, ketika ia (manusia) berkontribusi terhadap budaya yang melingkupi, kontan ia menjadi bagian dari proses (perubahan) kebudayaan.

Proses kebudayaan semacam inilah yang menjadi problematika bagi manusia moderen terutama dalam menyikapi paradigma globalisasi yang walau dikritisi dari segala sudut pandang – tetaplah nyata.

Anti-globalisasi muncul sebagai reaksi atas situasi dunia saat ini yang diselimuti trauma-negativa; perang, kelaparan, penjajahan hak asasi, ketimpangan kesempatan, juga degradasi lingkungan di mana-mana.

Euphoria globalisasi menyertakan badai derita, masih segar dalam ingatan kita bagaimana ekonomi gelembung (bubble economies) di Indonesia, Thailand, dan Malaysia di tahun 1997 meledak akibat penarikan investasi asing secara besar-besaran dan spekulasi ekonomi yang awalnya muncul karena liberalisasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara saat itu.

Begitu pula ketika penggunaan TCP/IP dan HTML makin diminati dan disepakati oleh dunia barat sebagai basis internet, muncul ketakutan bahwa akan muncul sebuah monoculture dan doktrinisasi oleh para penguasa teknologi itu terhadap perkembangan cyberspace. Namun kekhawatiran itu sontak sirna ketika teknologi ini berkembang di domain publik yang kemudian malah secara signifikan memunculkan terapan-terapan baru.

Begitu pula ketika dominasi pemikiran Barat meliputi paradigma pembangunan dunia, muncul pertentangan dari Timur sebagai penyeimbang, yang dalam konteks historis sesungguhnya telah dilawan kalangan Sosialis. Yang pada gilirannya nilai ketimuran yang memberi nuansa plural dan multi-kultur sebagai aksen penting dalam paradigma mengenai dunia, kini mulai diapresiasi.

Berkaitan dengan dinamika global tersebut, tema Reconsculture[4] mencerminkan langkah penting dalam proses transformasi antar budaya (intercultural transformations) dimana globalisasi mesti dimaknai dengan kesadaran bahwa meningkatnya keterkaitan antar bangsa dan manusia ini adalah sebuah ruang untuk mencapai ekulibrium kultural; keharmonisan melalui upaya-upaya reflektif dan adaptasi terhadap budaya masing-masing hingga pengaruh global. Reconsculture jelas dialami oleh entitas Bali.

Bali merupakan sebuah ruang atau capaian kosmologis dimana kesinambungan budaya tumbuh dan berkembang.[5] Reputasi Bali masa kini sebagai sebuah ranah kebudayaan adi luhung dan relung kreativitas keindahan yang dinamis bukan bersumber dari satu even hebat yang terjadi begitu saja pada suatu term sejarah di pulau ini. Sebaliknya reputasi kultural dan tradisi tersebut berasal dari beragam proses kebudayaan dari unsur-unsur baik lokal maupun asing yang terjadi dari masa pra sejarah hingga berlanjut sampai masa kini.

Satu contoh monumental adalah fusi keagamaan yang pernah terjadi di Bali pada abad ke sebelas dimana sang jenius Mpu Kuturan berhasil menyakinkan para pemuka sekte untuk menyatukan ajaran mereka menjadi satu keutuhan paham kepercayaan. Dalam pertemuan tersebut, ajaran religius Tri Murti[6] disepakati. Selanjutnya sampai sekarang, Tri Murti menjadi fondasi bernuasa multi facet nan kuat dari paham yang kita kenal sebagai Hinduisme Bali.

Secara singkat, apabila hal yang teramat serius seperti di atas -- persaingan sistem kepercayaan -- dapat diselesaikan secara elegan dan kreatif, maka tidak ada yang bisa menghalangi orang Bali untuk menggunakan metode yang sama dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lain, seperti halnya pengaruh budaya asing. Selama kedatangan mereka tidak dimotivasi untuk menjajah atau difasilitasi dengan kekerasan, orang Bali niscaya menyerap dengan kredo dialog kultural.

Seperti pada awal abad dua puluh (1906, juga 1908), orang Bali menunjukkan perlawanan heroik nan tragis terhadap pendudukan dan kekejaman penjajahan Belanda. Namun di saat yang bersamaan mereka menunjukkan rasa hormat yang mendalam kepada seorang pelukis kenamaan Belanda, WOJ Nieuwenkamp, yang bersepeda kesana kemari ke seluruh pelosok pulau dewata ini. [7]

Bagi entitas Bali, harmoni merebak dari keindahan; sebuah aspek budaya mendasar terutama dalam mentransformasi lanskap fisikal dan fisiologis pulau ini. Masyarakat Bali amat menekankan pentingnya keindahan bagi mereka yang direfleksikan melalui seni mengingat seni adalah persembahan, pijak spiritual, dan penjaga harmoni.

Keindahan estetis atau Sundaram menjadi salah satu dari tiga pilar utama paham ini. Pilar lainnya adalah Satyam (Kejujuran) dan Siwan (Kesucian). Dalam konteks ini, kesempurnaan hidup hanya bisa tercapai bila seorang manusia Bali bisa menjalankan hidupnya sesuai dengan Satwam, Siwam dan Sundaran tersebut; dimana hidup (pikiran, perkataan, perbuatan) tidak hanya suci, jujur, namun juga indah.

Pemahaman ini bisa menjadi sebuah sumbangsih dari Bali bagi dunia.

Dalam konteks seni rupanya, Bali juga menjalankan reconsculture. Rekonstruksi dan rekonsiliasi estetis berlanjut, dengan berkembangnya berbagai ragam gaya (style), school (aliran), dan mazhab (movement) yang hidup berdampingan dan saling mengisi sepanjang perkembangan jaman.

Pelaksanaan biennale seni visual pertama di Bali pada tahun 2005 kemarin memunculkan sebuah rekonstruksi kreativitas seni visual di Bali.[8] Kreativitas tidak lagi dibaca sepenuhnya dari gaya, aliran maupun mazhabnya, namun dibaca dari sudut pandang Bali sebagai satu kesatuan geo-kultur yang terbuka bagi pengaruh luar.

Ketika kreativitas merespon kekuatan multikulturalisme dalam masyarakat global masa kini, dan menjadi indikasi akan besarnya keinginan perupa mengembangkan gaya pribadi yang unik maka muncul karya-karya yang mengedepankan pemahaman dan kesadaran akan isu-isu kontemporer – seperti yang nampak dalam eksplorasi perupa dalam pameran ini.

Interaksi identitas pada tatanan global ini mengingatkan saya pada sub-tema Déjà vu (Wilayah Baru) yang merupakan sintesa dari sub-tema Echo dan Embodiment yang masing-masing merepresentasikan gema transformasi dan pembadanan ikonografis budaya tradisi. Sebagai sebuah refleksi, tentu pembacaan semacam ini adalah konstruktif dalam memetakan seni rupa Bali dalam batasan nasional maupun dunia.

Aktivitas inspiratif dan presentasi visual Reconsculture dari delapan perupa muda Nusantara ini termasuk A.A. Darmayuda, AS Kurnia, Made Bakti Wiyasa, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Nyoman Sujana “Kenyem”, Polenk Rediasa dan Wayan Kun Adnyana mengumandangkan arus kreatif yang dialogis, multi-interpretasi dan yang terpenting, mengedepankan semangat eksplorasi kreatif yang tersatukan oleh sebuah kesamaan visi; membangun dan memperkuat kesinambungan kemanusiaan yang penuh kepekaan dan welas asih .

Akhir kata, penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada seluruh perupa dan kurator yang telah membagi pemahaman mereka akan dunia dengan kita semua. Kita berharap sumbangsih mereka sebagai duta budaya dapat mengedepankan keseluruhan kosmologi pemikiran - terutama kemampuan - Bali menumbuhkan dan memelihara keragaman kultural berikut pertarungan kreativitasnya dengan ide-ide kontemporer.

Yogyakarta, 15 April 2006,
Prof. Dr. I Made Bandem

[1] Reconsculture berlangsung di ARMA Museum Ubud Bali dari 4 Mei s/d 27 Juni 2006; sebuah pameran seni visual yang dikurasi oleh Putu Wirata Dwikora dan menampilkan capaian artistik dari delapan perupa muda Nusantara termasuk A.A. Darmayuda, A.S. Kurnia, Made Bakti Wiyasa, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Nyoman Sujana “Kenyem”, Polenk Rediasa, dan Wayan Kun Adnyana.
[2] Quest for Global Healing adalah rangkuman dari upaya-upaya inspiratif demi pembaharuan dunia yang berlangsung di Ubud, Bali untuk kedua kalinya dari 3 s/d 8 Mei 2006.
[3] Seiring dengan pesatnya perkembangan internet, ruang virtual itu didominasi dengan penggunaan sejenis bahasa programming yaitu Hypertext Markup Language (HTML) yang menentukan bagaimana isi (content) dinikmati oleh penggunanya (end-user). Di sisi lain, hypermedia adalah integrasi HTML dan Multimedia (gambar, suara, video, teks, animasi, dan fotografi) yang memungkinkan tampilan isi yang amat kaya. Inilah yang membuat Internet amat popular.
[4] Baca lebih lanjut Pengantar Kuratorial Pameran RECONSCULTURE oleh Putu Wirata Dwikora. Reconsculture merupakan upaya mengedepankan toleransi antar masyarakat dari budaya yang beragam demi tercapainya peradaban manusia yang minim akan konflik dan tirani.
[5] Baca I Made Bandem & Wayan Juniartha (2005). Bali Biennale: Space and Scape of Excellence (Keynote Speech Seminar Seni Visual Internasional yang diadakan dalam kaitan Pameran Seni Visual Internasional Bali Biennale pertama di Taman Budaya Denpasar, 27 November 2005).
[6] Dalam Hinduisme Bali, Tri Murti mencerminkan Tiga Kekuatan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), and Siwa (Penghancur).
[7] Sebagai penghormatan kepada jasa Nieuwenkamp dalam memelihara legasi kultur di Bali, imaginya bersepeda diabadikan pada relief batu di tembok Pura Meduwe Karang di Buleleng.
[8] Baca lebih lanjut Kuratorial Space and Scape oleh Dewan Kurator Bali Biennale dalam katalog Pra Bali Biennale 2005 yang mengemukakan delapan domain kreativitas seni visual dari perspektif Bali termasuk Pilgrimage (Ziarah), Voyage (Perjalanan), Echo (Penggemaan Budaya Tradisi), Embodiment (Pembadanan Ikonografis), Déjà vu (Wilayah Baru), Exploration (Eksplorasi Patung), Discourse (Wacana), dan Edifice (Tri Matra).

I Made Bandem
Penerima Habibie Award 2003 ini, merupakan salah seorang arsitek revitalisasi seni dan kebudayaan Bali bersama Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (antara lain dengan menyelenggarakan Pesta Seni Bali yang telah berlangsung seperempat abad lebih). Ratusan kertas kerjanya mengulas tentang seni dan budaya Bali dan Indonesia dalam konteks global. Salah satunya yang berjudul "Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition" dengan komprehensif dan lugas telah menduniakan seni dan budaya Bali.

Kuratorial RECONSCULTURE

KONSTRUKSI KULTUR BARU
Pengantar Kuratorial Pameran RECONSCULTURE
ARMA Museum, Ubud, Bali
4 Mei – 27 Juni 2006

Setelah Perang Dingin berakhir bersama runtuhnya rezim komunis Uni Soviet pada tahun 1980-an, apakah kita dan bangsa-bangsa di dunia telah dijauhkan dari ancaman perang bersenjata antar dua negara adi daya tersebut? Apakah bangsa-bangsa di dunia telah mengakhiri episod ketegangan ancaman perang nuklir dan kita akan dibawa ke bumi nan damai tanpa perang, setelah ‘’perang-perang kecil’’ antara rumpun bangsa di di Timur Tengah, Afganistan, India, dan lainnya lagi, yang masih berkecamuk dimana-mana? Dalam perhelatan ‘’Global Healing II’’, yang berpretensi mendorong ketenteraman dan perdamaian, refleksi seperti ini pastilah sangat penting.

Keberadaan tokoh perdamaian seperti Uskud Desmond D. Tutu dalam perhelatan ini, yang di tahun 2004 bahkan hadir pada Global Healing Pertama di ARMA Museum, adalah isyarat bahwa di tengah ancaman perang antar bangsa, ternyata tetap ada optimisme, kumandang dan seruan perdamaian sekuat mungkin. Seni dan kebudayaan adalah salah satu elemen maha penting dalam diplomasi-diplomasi politik untuk mencapai perdamaian.

Kembali ke pertanyaan awal, seberapa besarkah peperangan antar negara masih punya potensi mengancam perdamaian? Para intelektual dan ilmuwan yang optimis pun berteori, bahwa ke depan ancaman peperangan akan terus berkurang. Mereka tak kehilangan optimisme, kendati di Irak masih berkecamuk peperang akibat serbuan Amerika dan sekutunya ke negeri semasa kekuasaan Saddam Husein itu. Michael Doylle misalnya menyusun tesis, bahwa ancaman perang akan berkurang sejalan dengan berlipatnya rezim demokratis, rezim yang tumbuh mulai tahun 1974. Doylle memustahilkan terjadinya perang antara negara-negara liberal, antara lain karena secara sosial politik dan ekonomi mereka sudah mapan. Dengan kemapanan itu mereka mampu mengatasi konflik-konflik melalui diplomasi politiknya. Analis lainnya, John Mueller berpendapat bahwa sejalan dengan kemajuan peradaban, perang bakal ketinggalan jaman dan akan menghilang seperti menghilangnya perbudakan atau lenyapnya pertarungan duel dari masyarakat maju. Perang mungkin terjadi antara negara dunia ketiga yang terbelakang, sementara di negara maju perang merupakan hal tak terpikirkan. Lalu, Francis Fukuyama, dalam esei cemerlang ‘’The End of History’’, menyampaikan optimismenya bahwa berakhirnya Perang Dingin antara negara-negara besar yang maju sebagai kemenangan telak liberalisme ekonomi dan politik serta pudarnya pesona sistem alternatif yang ada, diantaranya Marxisme-Leninisme. Kata Fukuyama, perang mungkin terjadi antara negara dunia ketiga yang masih terjerat dalam proses sejarah, namun sejarah telah berakhir bagi negara maju seperti Uni Soviet dan Cina.[1]

‘’Global Healing’’, dengan kehadiran tokoh-tokoh perdamaian seperti Desmond Tutu di perhelatan ini, terasa menebar spirit ketenteraman dan perdamaian. Untuk Museum ARMA, pameran RECONSCULTURE ini merupakan ‘’Global Healing’’ kedua setelah pameran tunggal Made Sumadiyasa bertajuk ‘’One World - One Heart’’ pada ‘’Global Healing’’ pertama, dua tahun silam. "One World - One Heart’’ mengeksplorasi intisari dari pembentuk perilaku manusia, dan karenanya juga pembentuk utama kebudayaan dari bangsa-bangsa di dunia. Bangsa-bangsa bisa hidup rukun dalam toleransi yang damai, bilamana interaksi sosial digerakkan oleh kejujuran dan sikap saling menghargai. Hati nurani adalah mata air perdamaian dan ketenteraman.

Namun, sepanjang ribuan tahun perjalanan sejarah dunia memang tak pernah sepi dari konflik multi-kepentingan. Konflik tak hanya berlangsung dalam bentuk peperangan dahsyat yang dikendalikan dengan konvensi-konvensi militer internasional, tapi begitu banyak konflik-konflik horizontal antar elemen-elemen primordial – suku, agama, golongan politik, kelompok kepercayaan – yang berlangsung secara ‘’alamiah’’.
Dalam event RECONSCULTURE [2] di ‘’Global Healing’’ ketiga ini, para perupa diajak mengeksplorasi problem-problem di seputar konflik kultural – sekaligus ditantang untuk menawarkan ide-ide kreatif yang original - dimana terdapat dialektika yang abadi, bahwa manakala suatu ketika mereka berseteru, senantiasa ada yang menyerukan perdamaian, toleransi, sikap saling menghargai, dan rekonsiliasi. Manakala ego-ego budaya menyebabkan konflik untuk saling menghabisi, senantiasa muncul tokoh maupun komunitas toleran yang menebarkan spirit dari pembelajaran untuk respek terhadap kebudayaan lain.

Seni dan kebudayaan Bali yang dapat disaksikan sekarang ini – yang oleh para wisatawan dibayangkan sebagai surga seni di timur – merupakan hasil rekonstruksi dan rekonsiliasi yang berlangsung berabad-abad. Di dalamnya terserap elemen budaya Jawa, Cina, Islam, maupun budaya pribumi Bali Mula; menjadi adonan kultur pembentuk ekspresi maupun perilaku masyarakat Bali pada dualitas ini: mereka adalah penduduk yang ramah dan penuh senyum, tapi mereka juga manusia biasa yang bisa dibakar amarah dan terlibat kekerasan fisik berdarah seperti dilukiskan dengan detail oleh Geoffrey Robinson. [3] Namun, terlepas dari sisk-sisi gelap dari perilaku masyarakat Bali ini, secara menyeluruh ia masih menebar pesona, dan pesona itulah magnet yang menarik penyelenggara ‘’Global Healing’’ memilih Bali sebagai venu untuk kedua kalinya.

Kendati tidaklah mungkin ada bangsa manusia di muka bumi ini hidup berdampingan dalam perdamaian yang absolut, hasrat untuk menjadikan ketenteraman dan toleransi sebagai cita-cita absolut sepanjang hayat manusia, kiranya dapat dipahami. Menyadari bahwa kekerasan sosial maupun politik tetap merupakan ancaman adalah cermin dari sikap waspada, dan itulah yang mendorong manusia dan bangsa-bangsa senantiasa melakukan refleksi dan rekonstruksi terhadap kultur masing-masing melalui diplomasi politik dan kebudayaan pada umumnya. Sementara pada lapisan masyarakat yang lebih luas, interaksi kebudayaan berlangsung secara alamiah, tidak hanya di Bali, tapi hampir pada semua kebudayaan di muka bumi. Dan pada elemen-elemen kultural itulah - baik yang memancarkan semangat konstruktif maupun destruktif – para perupa di pameran RECONSCULTURE ini melakukan eksplorasinya.

Karya-karya AS Kurnia – kelahiran Semarang, 1960 -, tapi mulai 1990-an menetap di Ubud, Bali – kemudian Made Sumadiyasa, Made Mahendra Mangku, Wayan Kun Adnyana, Polenk Rediasa, Nyoman Sujana ‘’Kenyem’’, AA Darmayuda, Made Bakti Wiyasa; memang dapat diapresiasi dari sudut pandang rekonstruksi kultur ini. Ilmuwan politik terkemuka Samuel P. Hutington justru melihat bahwa paska berakhirnya Perang Dingin, benturan beralih dari perang ideologis menjadi perang antar peradaban, yakni peradaban Barat yang bernafaskan Kristen dan peradaban Timur dengan mayoritas penganut Muslimnya.

Pesawat komersial yang dibajak dan ditabrakkan ke gedung WTC pada 11 September 2001 – yang dituduhkan kepada al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden – seakan melegitimasi tesis Hutington tersebut. Bom Bali 12 Oktober 2002, yang oleh para pelakunya dinyatakan sebagai pernyataan kebencian terhadap Amerika dan sekutunya, memang terasa seperti representasi ‘’benturan peradaban’’ ala analisis Hutington. Kendatipun sebetulnya perang-perang besar antar negara tidaklah bisa sepenuhnya didorong oleh motivasi tunggal - tapi merupakan resultante dari multi-motif, diantaranya motif material maupun motif ideologis kultural - analisis dengan hipotesis ‘’mencolok’’ ala Huntington ini biasanya sangat menarik perhatian. Namun, atas motif apapun ia, peperangan maupun perundingan-perundingan damai tidak pernah kehilangan legitimasinya.

AS Kurnia misalnya, perupa otodidak yang dalam beberapa tahun belakangan ini getol mengeksplorasi tema-tema sosial-politik-budaya, manakala menampilkan figur Buddha Gautama diantara dua figur yang berseteru – yakni George Bush dan Osama bin Laden (dalam karya media campur berjudul ‘’Spasi, 2005, karya yang diikutkan pada Summit Event Bali Biennale 2005), diam-diam memancarkan pesan rekonsiliasi dan rekonstruksi kultural. Perang adalah bencana. Bahkan, sekalipun ada pemenang sampai pada tahap tertentu, ia tetap bencana bagi kedua belah pihak: menang jadi arang, kalah jadi abu. Rakyat Amerika tidak hanya kehilangan lebih dari 2000 prajuritnya dalam pertempuran di medan perang Irak. Melalui pembayaran pajak, rakyat Amerika juga menanggung beban finansial yang sangat besar, yang memaksa pengurangan anggaran untuk kesejahteraan publik.

Made Sumadiyasa, kelahiran 1971, alumnus ISI Yogyakarta, sebagian besar melanjutkan eksplorasinya pada ‘’fenomena hati nurani’’ melalui ikon jantung, yang digarapnya dengan pendekatan spontan ekspresif. Pesan dari karya-karya Sumadiyasa ini adalah seruan agar manusia kembali menengok diri sendiri, melakukan introspeksi dan retrospeksi, mengurangi tudingan untuk mempersalahkan pihak lain. Spirit toleransi seperti ini mengingatkan kita pada ajaran Budha Gautama yang sama sekali menjauhkan diri dari konflik dan peperangan, bahkan meninggalkan kemewahan tahta di istana, menjadi pertapa sampai akhir hayatnya. Budha yang mengajarkan pengikutnya untuk tidak mengkultuskan Tuhan, mengajak mereka kembali pada diri sendiri, karena bilamana manusia sanggup mencintai dirinya sendiri secara tulus, ia akan memancarkan cinta-kasih pada manusia lain. Karenanya, bahasa ungkap filosofis Sumadiyasa berbeda dengan dengan beberapa perupa senior Bali, ambillah misalnya Nyoman Erawan sebagai bandingan. Erawan, kelahiran 1958, alumnus ISI Jogjakarta, merepresentasikan elemen-elemen dikotomis dan bipolar secara simbolik, satu spirit dari ajaran Shiwaisme di Hindu, sementara Sumadiyasa lebih cenderung pada ungkapan tunggal: estetika, ketenteraman, kedamaian. Ungkapan Sumadiyasa jauh dari dinamika konflik, dia hanya mengambil ‘’fusi’’ dari dualitas rhwa-bhineda menjadi satu makna: kerinduan akan harmoni.

Mahendra Mangku, kelahiran 1972, alumnus ISI Yogyakarta, sedikit diantara perupa Bali yang bertahan pada bahasa abstrak-ekspresionistik, yang memang pernah menjadi semacam mode perupa muda Bali pada 1990-an.[4] Manakala sejumlah perupa muda ‘’memberontak’’ terhadap apa yang mereka anggap hegemoni gaya abstrak-ekspresionistik yang mentrasformasikan ikon-ikon agama dan budaya Bali pada tahun 2000 – dan sesudahnya eksplorasi tema-tema sosial politik dengan teknik realis menjadi gaya yang populer – Mangku tetap pada gaya abstrak-ekspresionistik ini.[5] Dengan tetap bertahan dan tetap eksploratif di wilayah abstraksi ini, setidaknya Mangku menolong para pendobrak hegemoni, yang bila dibiarkan melenggang akan menjadi hegemoni baru, dengan menyatakan bahwa ‘’neo-realisme’’ bukanlah satu-satunya seni paling kontekstual dan absolut benar. Dengan bertahan, Mangku memperkaya pluralisme ekspresi, dan tidak mau ditindas oleh pemberontakan-pemberontakan atas nama apapun.

Bakti Wiyasa, kelahiran 1974, alumnus ISI Jogjakarta, adalah salah seorang perupa anggota SDI (Sanggar Dewata Indonesia)[6], merupakan sedikit diantara perupa muda Bali yang menggarap tema-tema sosial politik, dari problem Indonesia umumnya, termasuk diantaranya problem-problem kontemporer masyarakat Bali. Perubahan sosio-kultur yang melanda masyarakat Bali sejak kolonisasi Belanda bersama Politik Etisnya[7], kemudian program pembangunan dan pariwisata semasa kekuasaan Soeharto dan Orde Barunya, selain mendatangkan kemakmuran ekonomi yang melimpah, telah menimbulkan pemiskinan dan dekadensi kultur yang cukup memerihatinkan. Eksploitasi tanah dan lingkungan yang sejalan dengan intervensi mega-investasi, merangsang konflik-konflik sosial lokal, ataupun sengketa antara masyarakat lokal dengan investor luar yang berkolusi dengan pemerintah. Beberapa karya Bakti Wiyasa bicara tentang kecemasan masyarakat Bali akan ancaman lenyapnya tradisi dan kultur, sesuatu yang dalam pencitraan Bali untuk memikat wisatawan dilukiskan sebagai ‘’surga di timur, tempat kelas menengah Eropa melepas penat, setelah rutinitas industri yang melelahkan.’’ Dan ‘’surga di timur’’ ini adalah kultur yang diramu sepanjang ratusan tahun, sejak jaman pra-sejarah, sampai pemerintahan raja besar Udayana abad ke-10 dan era Dalem Waturenggong sekitar abad ke-15 dan 16.

Lalu Wayan Kun Adnyana, kelahiran 1976, alumnus cum laude di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Denpasar, intens mengeksplorasi nilai-nilai di sebalik erotisme seksual, yang dalam konteks kultur disebut kamasuka yang kira-kira sepadan dengan hedonisme seksual. Di tengah sekularisme konsumtif manusia moderen, seks tak lagi sepenuhnya sakral. Seks tak selalu ekspresi cinta sepasang kekasih yang dilanda asmara. Keperawanan tak lagi mutlak penting di malam pertama pengantin. Hedonisme seksual memproduksi kesenangan, tapi juga kengerian yang setimpal: penyakit HIV/AIDS, satu diantara penyakit yang paling menakutkan. Kun intens pada pemertanyaan nilai-nilai dibalik seksualitas dan lukisannya senantiasa gaduh oleh tubuh-tubuh lain jenis yang saling merengkuh, tubuh yang mengumbar hasrat, tubuh yang menjadi subyek hedonisme seksual. Kun menawarkan konstruksi kultur seperti apa terhadap dekadensi yang terus berlangsung? Di tahun 2006 ini, bangsa Indonesia diperhadapkan pada pro-kontra dalam pendefinisian apa itu kultur dalam konteks ‘’pornografi, pornoaksi, seksualitas dan sensualitas, serta kaitannya dengan moral’’. Sosok kongkretnya adalah pro-kontra terhadap RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi), rancangan undang-undang yang berpretensi membuat standar moral dan etik guna mengendalikan moralitas libidon masyarakatnya.[8] Pro-kontra yang tajam dalam merespon RUU APP membutuhkan satu jalan tengah yang konstruktif dan karya-karya periode kamasuka Kun Adnyana masih berada pada ekspos hedonisme seksual secara deskriptif. Ia belum menawarkan satu konstruksi kultural baru, apakah ia menerima eksploitasi seksual secara sekular-hedonis, ataukah ia tengah menstimulasi gagasan-gagasan baru untuk membentuk semacam kultur seksual yang lebih konstruktif?

Nyoman Sujana ‘’Kenyem’’, kelahiran 1977, alumnus STSI Denpasar, di awal kemunculannya pada 1990-an, intens pada eksplorasi tubuh perempuan, perempuan dalam kultur Bali, perempuan dengan kebaya dan rambutnya yang bersanggul, perlambang dari budaya paternalistik yang menempatkan perempuan sebagai kelas dua. Ekspresi Sujana memang bukalah perempuan yang ‘’memberontak’’ pada marjinalisasi posisi sosialnya secara kultural itu, satu representasi yang cukup nyata tentang ‘’politik tubuh’’ perempuan Bali. Di Bali, hanya segelintir perempuan maupun laki-laki, yang mempersoalkan secara kritis marjinalisasi perempuan secara kultural ini, taruhlah misalnya karya-karya almarhumah IGAK Murniasih yang ‘’berani’’ dan mengejutkan itu. Secara kultural, sebagian besar seperti masih menerima kenyataan, bahwa secara kultural perempuan Bali masih lebih dipandang karena estetika tubuh dan maupun eksotika peran keperempuanan di masyarakatnya: kebaya, sanggul, sesajen, dan sejenisnya. Belakangan, Kenyem mengeksplorasi objek-objek baru, menggunakan pendekatan optikal, melakukan eksperimen visual dan teknik untuk sesuatu yang original.

Polenk Rediasa, kelahiran 1979, alumnus ISI Denpasar, bermain dengan teknik drawing untuk menjelajah benda dan makhluk-makhluk realistik – manusia, serangga, jam tangan, dan lain-lain – dengan garapan ala ‘’realisme’’. Ia termasuk generasi yang mulai muncul pada awal tahun 2000-an ini, tengah getol melakukan eksperimen-eksperimen tematik, memanfaatkan berbagai benda sebagai metafor: elemen-elemen tubuh, elemen-elemen serangga dan makhluk lainnya. Dari sebagian besar karyanya dalam lima tahunan ini adalah penjelajahan pada elemen-elemen tubuh yang sensual estetik serta eksplorasi pada eksotisme tubuh. Pesan-pesan

Yang terakhir, AA Gde Darmayuda, kelahiran 1977, alumnus ISI Denpasar. Ia termasuk generasi yang mulai muncul di awal 2000-an, memperlihatkan kecenderungan untuk intens pada salah satu elemen tubuh manusia, yakni wajah, mulut dan gigi geligi, yang digarapnya close up realistik. Gigi geligi manusia itu menjadi metafor dari hasrat dan keserakahan manusia untuk berkuasa, mulut menyergap bola bumi, bola yang seakan permen karet yang dikunyah sampai lumat, untuk kemudian ditiup jadi balon mainan yang terbang dihembus angin. Darmayuda boleh jadi tengah melakukan kritik terhadap kegagalan manusia mengendalikan ketamakan konsumtifnya: menggunduli hutan, mengeruk sumberdaya energi di perut bumi, mengeksploitasi sumberdaya buruh, dan sebagainya.

Memang, berharap akan hadirnya jaman tenteram nan adil tanpa konflik hanyalah utopia. Namun, bekerja untuk utopia itu – yang telah dijalani sebagai kebajikan oleh Uskup Desmond Tutu, Dalai Lama, Bunda Theresa, Uskup Bello sampai pada Budha Gautama beberapa abad silam – adalah sesuatu yang realistik dan menjadi kewajiban. Telepas apakah karena kita idealis ataupun bukan, tapi karena setiap manusia telah ditakdirkan untuk lahir di tengah kebudayaan yang kadang-kadang tenteram, kadang-kadang berkonflik ini.

Denpasar, 22 Maret 2006.
Putu Wirata Dwikora

[1] (Esei Samuel P. Huntington, dalam ‘’Tak Ada Jalan Keluar: Kesalahan-kesalahan Endisme, bunga rampai ‘’Amerika dan Dunia, Yayasan Obor Indonesia, 2005).
[2] RECONSCULTURE adalah terminologi dengan menggabung RECONSTRUCTION dan CULTURE, merupakan refleksi betapa penting untuk melakukan rekonstruksi terhadap kebudayaan bangsa-bangsa, dimana kadang-kadang ada yang merasa superior dan menjadikan ideologinya sebagai pembenaran untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme. RECONSCULTURE dimaksudkan sebagai ikon toleransi antar masyarakat dari budaya yang beragam.
[3] Ditulis dengan baik dalam buku ‘’Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali’’, Cornell University Press, 1995, telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia: Sisi Gelap Pulau Dewata, Sejarah Kekerasan Politik, LkiS, 2006.
[4] Beberapa penulis dan juga perupa sering menggambarkan fenomena yang berkembang pada perupa anggota SDI (Sanggar Dewata Indonesia) tersebut sebagai transformasi ‘’abstrak-ekspresionisme’’ dengan ikonografi kultur Bali . Pada tahun 1990-an, gaya ‘’abstrak ekspresionisme’’ ala Bali ini memberikan pengaruh yang sangat kuat di Bali, menjadi semacam streotipe modernitas ke-Bali-an, yang oleh beberapa kalangan perupa muda malah dicap sebagai hegemoni yang membendung peluang munculnya kreasi-kreasi alternatif.
[5] Pada bulan Januari 2000, Kamasra (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) – sekarang menjadi ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar – menggelar perhelatan seni rupa bertajuk ‘’Mendobrak Hegemoni’’. Mereka mengecam hegemoni SDI (Sanggar Dewata Indonesia), perkumpulan perupa kelahiran Bali di Jogjakarta, dideklarasikan pada tahun 1978, mengecam hegemoni galeri, museum, art dealer, kolektor, kritikus seni, jurnalis seni, perupa-perupa senior seperti Made Wianta, Nyoman Gunarsa, Nyoman Tusan, Chusin Setyadikara, Nyoman Erawan, dan lain-lain, dengan cara yang sarkastik. Intinya, mereka menilai elemen-elemen hegemonik tersebut menutup ruang kreatif kaum muda, dan andaikan para pendobrak ini punya power, mereka seperti hendak ‘’menghenyahkan’’ semuanya dari muka bumi.
[6] Merupakan perkumpulan mahasiswa Seni Rupa ISI Jogjakarta asal Bali, dideklarasikan tahun 1978 oleh Nyoman Gunarsa, Wayan Sika, Pande Gde Supada, Made Wianta, dan lain-lain. SDI mengemban visi spritual-religius, menjadi semacam ‘’Kubu Bali’’ pada 1970-an, manakala ‘’Kubu Jogja’’ yang mengemban realisme berhadapan dengan ‘’Kubu Bandung’’ yang mengusung modernisme. Sampai 30-an tahun berikutnya, SDI menjadi semacam referensi ‘’seni rupa moderen Bali’’, dan itulah yang antara lain didobrak oleh Kamasra STSI Denpasar, Januari 2000.
[7] Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan Balisering setelah berhasil menaklukkan raja-raja Bali dalam dua pertempuran puputan yang memalukan Belanda. Raja Badung melakukan peralawanan puputan pada tahun 1906, disusul Perang Puputan oleh Raja Klungkung pada tahun 1908. Melalui kebijakan Balisering ini, pemerintah Hindia Belanda merawat seni dan kebudayaan Bali, mempromosikannya sebagai pulau wisata di Pasifik, sekaligus mencitrakannya sebagai semacam surga, selain untuk menebus ‘’dosa-dosa kemanusiaan’’ melalui kemenangan dalam dua perang puputan tersebut, juga untuk mengimbangi pencitraan orang Bali sebelumnya, yang dilukiskan sebagai pulau penuh magi, penduduk yang berwatak keras mengerikan dan suka berperang.
[8] RUU APP ini telah menimbulkan pro-kontra yang cukup tajam di masyarakat, substansi perdebatannya bahkan melebar sampai pada kecurigaan pada ‘’jangan-jangan ada agenda ideologis tersembunyi dibalik RUU APP ini, guna menyusun model busana standar dan seiman dengan RUU APP’’, yang berikutnya bisa menjadi aturan untuk melakukan law enforcement terhadap para pelanggar kesusilaan.

Putu Wirata Dwikora
Alumnus Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian Universitas Udayana (1987), mempunyai pengalaman dan karir sebagai jurnalis. Mulai terlibat secara intensif dalam seni rupa sejak awal dekade 1990-an termasuk menjadi pengelola even seni diantaranya Cak Seni Rupa Latta Mahosadi Nyoman Erawan, Ruwatan-Ritus Seni Nyoman Erawan (1997), Jean Michel Basquiat Exhibition (Darga Gallery, 2005), dan lain-lain.

Telah menulis begitu banyak artikel seni disamping aktivitasnya mengkurasi pameran-pameran seni rupa baik di Bali maupun Jawa. Ia adalah penulis monografi “Arie Smit, Memburu Cahaya Bali” dan “Siluet Perempuan, Sket-sket Wayan Sujana “Suklu”. Ia juga merupakan salah seorang inisiator dan chief curator dari Bali Biennale pertama tahun 2005.

Disamping aktif dalam dunia seni, ia juga proaktif dalam dunia LSM anti korupsi dan perlindungan HAM di Indonesia. Mengingat perannya dalam dunia LSM dan HAM tersebut melalui Bali Corruption Watch, ia menerima Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen di tahun 2004.

Monday, May 01, 2006

Reconstructible Culture at ARMA

salut untuk tim engineering ARMA yang

menyadari bahwa tembok bukan

pembatas yang menghindarkan pengertian dan komunikasi
...
selamat "ngebor"

One on One on Reconsculture

Partisipasi delapan perupa nusantara dalam RECONSCULTURE (4 Mei sampai 27 Juni 2006) bersamaan dengan hadirnya tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam GLOBAL HEALING II di ARMA Museum merepresentasi sebuah “dialog” antara sebuah pergerakan komunitas global yang mencita-citakan masyarakat “sehat psikologis” dengan sebuah pameran seni visual yang mengangkat problem sosial politik demi kesadaran dan saling pengertian kultural.

Di sela-sela riuhnya persiapan merayakan hari raya Galungan, Putu Wirata Dwikora (PWD), kurator pameran RECONSCULTURE berbincang dengan Made Marlowe, editor web-jurnal RECONSCULTURE (R):

R: Apa makna RECONSCULTURE itu?
PWD: Itu gabungan dari kata reconstruction, reconciliation dengan culture. Ini tawaran kepada para perupa, bagaimana memaknai rekonstruksi kultur, yang sekarang ini tengah panas-panasnya. Huntington bicara tentang benturan peradaban, dimana dunia disimplikasi menjadi benturan peradaban Islam dengan Kristen -dan kenyataannya memang sedang terjadi benturan peradaban antar berbagai kelompok- maka di RECONSCULTURE ini kita bicara tentang pentingnya rekonstruksi dan rekonsiliasi kultural. Itulah yang kita tawarkan pada para perupa ini.

R: Apakah pilihan perupa ini representasi dari masyarakat seni rupa moderen, atau Bali, atau bagaimana?
PWD: Bukan representasi komunitas manapun, tapi representasi dari individu mereka masing-masing. Ini bukan perhelatan seperti biennale yang ditangaki dewan kurator dengan bahasan tema mendalam. Tidak demikian. Masing-masing perupa membaca realitas seputar benturan peradaban itu, memvisualisasikannya dalam karya dengan teknik dan gaya masing-masing. Kuratorial ini sama sekali tidak mempersoalkan seni rupa sebagai wacana ataupun sebagai isme.

R: OK, lalu apa esensi dari RECONSCULTURE ini?
PWD: Pertama, saya menawarkan dan mengajak para perupa, bagaimana mereka memahami problem-problem peradaban, antara konflik dan harmoni, antara harmoni dan konflik. Kedua, mengajak masyarakat mengapresiasi visualisasi gagasan para perupa itu.

R: Menurut pengamatan Anda, bagaimana capaian para perupa di pameran RECONSCULTURE ini?
PWD: Saya kira beragam. Karya “Spasi” AS Kurnia, adalah visualiasi yang sederhana mengenai konflik yang bisa dipandang sebagai benturan peradaban, dengan menampilkan figur George Bush dan Osama bin Laden, lalu ada tawaran mediasi dari spirit Budhisme disitu. Secara visual boleh dikatakan ini biasa saja, tetapi konstruksi ikon-ikonnya segera mengingatkan kita bahwa sebetulnya tesis tentang benturan peradaban ada betulnya. Apalagi, George Bush konon pernah kepleset dengan pernyataan yang melukiskan serbuan ke Irak sebagai Crussade, plesetan bawah sadar yang muncul dari Perang Salib sepuluh abad silam. Kekerasan yang berhenti pada kekerasan tidak pernah mampu jadi solusi konflik apapun.

R: Bagaimana dengan karya perupa lainnya?
PWD: Kun Adnyana masih mengeksplor wilayah seksualitas, kali ini dengan kontennya yang multi-lapis. Bila dalam Kamasukha ia mengangkat seks untuk hedonisme, dalam karya “Ritus Penciptaan” ia menyampaikan perihal perkawinan, perkawinan untuk mempertemukan tak hanya dua tubuh, tapi juga lapis-lapis budaya dan peradaban. Sekalipun hedonisme seksualitas mengepung masyarakat moderen yang semakin mudah berkomunikasi global ini, hasrat untuk mendalami multi-lapis makna dalam perkawinan dan persentuhan dua tubuh itu tetap ada.

Bakti Wiyasa, Polenk, Kenyem, Darmayuda, Mahendra Mangku, bahkan Sumadiyasa, masing-masing memperlihatkan gaya dan eksplorasi tematiknya yang spesifik. Bakti merefleksi tentang kejahatan dan kebijakan, Polenk bicara tentang anak-anak bayi inosen harapan kultur masa depan, Kenyem terkagum-kagum pada ritus-ritus tarian semesta, Darmayuda mengeksplorasi tubuh sebagai ikon dari produksi dan konsumsi dunia moderen, lalu Mangku eksplorasi pada kompetisi manusia mengeksploitasi ruang, dan Sumadiyasa termenung-menung pada dentum jantung hati serta hasrat konsumtif manusia yang tak ada batasnya. Problem-problem itu berada dalam wilayah peradaban masa kini, antara konflik dan harmoni, antara dekons-kultur dan rekons-kultur.

R: Tapi, ada yang menilai, bahwa dari aspek eksplorasi tematik, representasi visual maupun gagasan dari para perupa ini tidak cukup untuk tema besar RECONSCULTURE ini?
PWD: Memang, tema yang lumayan universal dan berat. Tapi, sekalipun demikian, kehadiran pameran ini yang berbarengan dengan Global Healing II, dimana tokoh seperti Desmond Tutu adalah pemrakarsanya, saya kira merupakan pemicu yang penting untuk eksplorasi yang lebih luas, variatif dan lebih kaya.

R: Apa sebetulnya pentingnya Bali dalam konteks RECONSCULTURE ini?
PWD: RECONSCULTURE bersamaan dengan Global Healing, satu komunitas global yang mencita-citakan penyembuhan global dari patologi sosio-kultur yang jadi asal-muasal konflik. Pilihan untuk menyelenggarakan even kedua ini di Bali lagi, itu ada alasannya. Marcia Jaffe, seorang panitia dari Global Healing mengatakan, Bali jadi venu untuk Global Healing II ini, karena masyarakatnya secara intrinsik punya kemampuan mengelola emosi sosio-kulturnya secara mengesankan.

Kata Marcia, setelah bom Bali Oktober 2005, Bali terbukti tidak dilanda gejolak rasial, seperti yang dibayangkan segelintir orang. Kata mereka, ada bayangan, bahwa kalau masyarakat Bali mampu mengelola emosi sosio-kulturnya secara sedemikian rupa, dimana mereka tidak terprovokasi untuk memusuhi warga Muslim di Bali -- padahal bom pertama dan kedua ini terindikasi dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya semacam penyelamat Islam, Jihad – berarti ada sesuatu yang perlu dipelajari dari masyarakat Bali. Anggota dari Global Healing akan sharing dengan tokoh-tokoh Bali, bagaimana mengelola kecemasan yang bisa bernuansa primordial agar tidak terseret pada chaos sosial. Nah, kawan-kawan perupa di RECONSCULTURE ini sebetulnya kita “tantang” untuk mengeksplor di wilayah ini...tapi, pasti tidaklah mudah.

R: Dalam visi Anda, apa yang menjadikan Bali bisa punya kemampuan mengelola emosi sosio-kulturnya, kendati didera begitu banyak masalah termasuk diguncang dua kali bom itu?
PWD: Pertama, tentu karena sampai tingkat tertentu, sikap-sikap nasionalisme maupun universalisme lebih kuat dibanding rasialisme. Nggak mungkin memang mengharapkan tak ada lapis-lapis rasial dalam masyarakat Bali, tapi mereka tidak cukup mendapat respon, kalaupun misalnya merlakukan semacam dorongan agar melakukan tindakan anarkis buat membalas bom pertama maupun bom kedua. Kedua, karena secara sosio-historis, leluhur Bali ini membangun seni dan kebudayaannya dari proses rekonsiliasi dan rekonstruksi terus menerus. Melalui asimilasi, inkulturasi, adaptasi; menyaring, menyerap, memberi. Ketiga, denyut dari nilai-nilai yang masih cukup kuat, bagaimana spirit dari kasih sayang Hinduisme dan Budhisme hidup dalam ajaran tat twam asi (aku adalah kamu, kamu adalah aku), ahimsa (tidak melakukan kekerasan terhadap sesama makhluk lain). Bahwa Hindu mengenal doktrin perang melalui ajaran Bharatayuda Mahabharata, memang ya, tapi itu baru akan dilakukan dalam konteks pembelaan diri, bukan untuk memulai serangan. Secara teoritis-hipotetis, saya rasa begitu.

R: Terimakasih, sukses dan Selamat Hari Raya ...
PWD: . . .

Reconsculture: Arus Kreatif Dialogis 8 Perupa Nusantara di ARMA

Pada tanggal 4 Mei sampai 27 Juni 2006 mendatang, ARMA (Agung Rai Museum of Art) akan menjadi tuan rumah bagi pameran seni visual RECONSCULTURE yang menampilkan kreatifitas delapan perupa nusantara yaitu AA Darmayuda, AS Kurnia, Made Bakti Wiyasa, Made Mahendra Mangku, Made Sumadiyasa, Nyoman Sujana "Kenyem", Polenk Rediasa, dan Wayan Kun Adnyana.

Pameran ini dijadualkan dibuka oleh Uskup Desmond Tutu, penerima Hadiah Nobel Perdamaian dari Afrika Selatan yang hadir di Bali berkaitan dengan konferensi Global Healing II.

Pameran ini independen, bukan semata-mata dalam rangka digelarnya Global Healing, kata Putu Wirata Dwikora yang mengemban tugas sebagai kurator bagi pameran RECONSCULTURE ini.

Ungkap senada juga disampaikan oleh A.A. Gde Rai (pemilik dan pimpinan ARMA), "Global Healing II yang bertajuk "Inspiring Activities for World Renewal" merupakan even yang berdiri sendiri, saling mendukung. Tidak ada yang perlu merasa subordinasi dari yang lain. Yang penting adalah bagaimana kedua event yang saling bertautan ini mampu menempatkan Bali sebagai pusaran energi positif dan pusat kultur yang menjadi kebanggaan dunia".

Menurut Putu Wirata, inspirasi untuk menggelar pameran ini berawal dari dialognya dengan A.A Gde Rai beserta Marcia Jaffe dan Wilford Welch (para penggagas Global Healing) yang ingin melanjutkan tradisi pameran seni rupa yang representasi tematiknya dirumuskan secara independen oleh kurator terpilih dan mengedepankan kearifan lokal yang dapat menjadi sumbangsih dalam usaha mencapai kehidupan kontemporer yang harmonis.

Alhasil, bila pada tahun 2004 ARMA menampilkan Made Sumadiyasa dalam pameran tunggal bertajuk "One World, One Heart", maka pada tahun 2006 ini ada hasrat dan juga ruang untuk menampilkan capaian estetik lebih dari satu perupa sebagai rangkuman arus kreatif yang dialogis, multi-interpretasi dan mengumandangkan semangat eksplorasi kreatif yang tersatukan oleh sebuah kesamaan visi; global healing - kesembuhan bagi dunia.

Sehubungan dengan perhelatan Global Healing, Bali dipilih untuk kedua kalinya, kata Marcia Jaffe, karena daya tarik empiriknya yang sangat mengesankan terutama ketenangan dan kesatuan masyarakat Bali pasca tragedi bom Bali bulan Oktober 2002 dan 2005.

Masyarakat Bali tetap tenang, sekalipun ada ketegangan emosional paska ledakan -dimana unjuk rasa massa sempat merobohkan tembok Lembaga Pemasyarakatan di Kerobokan, mendesak Imam Samudra dan Amrozi dan kawan-kawan segera dieksekusi- masyarakat Bali tidak terpancing untuk melakukan kerusuhan rasial.

Global Healing melihat fenomena ini sebagai fakta yang menarik. Mereka ingin mengetahui lebih lanjuti, mengapa masyarakat Bali mempu mengontrol emosinya sedemikian rupa. Padahal, di daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Ambon, Poso, Sampit-Kalimantan, dan lain-lain, ketenteraman telah hilang. Ini menarik untuk diselami.

Sebagai cerminan diplomasi budaya, pameran RECONSCULTURE menjadi amat menarik, terutama ketika perupa "ditantang" untuk merespon satu fenomena aktual dari peradaban yang berbenturan menurut tesis Samuel Huntington, dimana dari benturan dua kubu yang berkonflik itu lazimnya muncul solusi, semacam rekonsiliasi yang memungkinkan kedua kubu untuk "berdamai", atau bahkan melahirkan satu konstruksi kultur baru yang mengambil nilai-nilai dari kedua kubu yang berbenturan tersebut.

Putu Wirata Dwikora mengilustrasikan bahwa penghancuran gedung WTC dan Pentagon pada 11 September 2001, kemudian balasan Amerika dan sekutunya dengan menyerbu Afganistan dan Irak -dengan alasan untuk menyerang teroris atau pihak yang bersekutu dengan teroris- laiknya perang-perang besar semisal Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Teluk ketika AS dan sekutunya menyerbu Irak untuk membela Kuwait, dan lain-lainnya, adalah contoh konflik yang dibayangkan penyelesaiannya dengan kekerasan.

Dunia mesti berpaling, dan menyadari bahwa semangat rekonsiliasi dan rekonstruksi sangatlah penting untuk memberikan solusi dari benturan-benturan yang cenderung dekonstruktif, saling menghancurkan dan menghabisi.

Dan hasrat dan kesadaran reflektif semacam itu tercermin dalam 40 karya yang dipamerkan.

Karya "Spasi", AS Kurnia - yang pernah ditampilkan pada pameran Summit Event Bali Biennale 2005- merupakan satu representasi dari perang adikuasa melawan adikuasa lainnya, yang menyebabkan dunia berada dalam ketegangan dan ketidakadilan. AS Kurnia menghadirkan figur Buddha, satu tawaran "spasi", tawaran "gencatan permusuhan", guna mendinginkan suhu emosional sosio-politik dunia.

Lalu, Made Bakti Wiyasa, dalam karya berjudul "Semua Bisa Bilang Cinta", menggunakan anjing dan kembang teratai sebagai metafor dari keangkuhan yang akhirnya tunduk pada kesadaran baru, kesadaran pada "teratai perdamaian" yang lebih memberi harapan untuk kehidupan yang tenteram dan nyaman, dibanding dengan sepatu-sepatu lars kekerasan yang senantiasa membuat dunia lebih buruk.

Darmayuda tampil dengan visualisasi elemen-elemen tubuh manusia, jadi perlambang eksploitasi: mulut yang mengunyah dunia, bagai mengunyah gum.

Lalu, Kun Adnyana tampil "Ritus Penciptaan", pernyataan bahwa seks itu bukanlah sekadar persentuhan sensual dua tubuh yang kasmaran, tapi juga pertemuan benih untuk penciptaan masyarakat baru.

Kemudian Mangku mengeksplorasi renungan pada ruang yang semakin terbatas, manakala manusia semakin terjepit di ruang-ruang sempit.

Karya Polenk tentang tubuh-tubuh dengan teknik realisnya, menampilkan manusia dalam kehidupan yang penuh harapan dan optimisme.

Lalu Kenyem Sujana, menggunakan ikon-ikon universal "kembang, penari, bumi" untuk menyampaikan impian visionernya pada dunia yang tenteram, bumi yang sejuk dalam tarian.

Sementara Sumadiyasa tetap terpesona pada "jantung hati", seperti dalam karya heart series, dengan teknik spontan ekspresifnya menghadirkan hati nurani manusia itu sebagai pusat kendali perilaku dan masa depan dunia. Keserakahan konsumtif mendorong manusia melakukan over-eksploitasi pada alam, pengerusakan hutan dan lingkungan menyebabkan "global warming", musim berubah, bencana alam meledak dimana-mana.

Secara keseluruhan RECONSCULTURE menghadirkan harapan akan pentingnya rekonstruksi dan rekonsiliasi kultur, menyadari bahwa benturan hanya akan membawa para pihak pada kehancuran "menang jadi arang - kalah jadi abu" karenanya, solusi yang terbaik harus dicari dalam optimisme dari perdamaian.

Ubud, 1 Mei 2006
Salam Budaya,

Made Marlowe